Ironman Australia 2019

Perjuangan adalah kata yang pas untuk menggambarkan pengalaman renang 3.8km di Port Macquarie. Kilas balik di Hari Jumat saat waktunya untuk official swim trial, saya hanya dapat berenang 200m karena merasakan pusing yang tidak tertahankan lalu memutuskan kembali ke darat dan menunggu teman-teman lain selesai berenang. Ternyata semua teman-teman yg berenang pagi itu merasakan pengalaman pusing yang mirip dan kita sepakat kalau semua masih kecapekan setelah terbang panjang Jakarta Sydney dan perjalanan darat 380 km dr sydney ke Portmacquarie. Akhirnya di putuskan sisa hari kita isi dengan makan yang proper, istirahat dan tidur lebih awal.

Malam sebelum race dapat nasihat dari ratu kona Inge Prasetyo untuk konsumsi antimo sebelum renang dan itulah yang saya lakukan 15 menit sebelum start. Setelah pemanasan bersama, kita turun ke air untuk merasakan suhu air agar tidak shock nanti saat tiba waktu renang. Teman-teman lain mencoba renang namun saya tidak, hanya merendamkan tubuh saja sampai sebatas paha agar pada saat menunggu start di darat nanti tidak kedinginan.

Zacky memilih start di wave depan agar tidak terlalu lama gap waktunya ketika finish nanti dan itu keputusan yang baik jadi saya dan benyus ikut baris bersama di wave 1 menunggu giliran start, tak lupa kami sempatkan berdoa bersama demi keselamatan dan kesehatan sepanjang hari ini, kami bertiga memiliki kekhawatiran yang sama yaitu swim leg ini.

Di dalam sebuah race saya selalu membuat goal-goal kecil yang menjadi acuan jangka pendek untuk dicapai, dalam swim ini ada beberapa patokan visual yaitu turn buoy (pelampung besar di rute renang), jadi daripada memikirkan renang yang jauh kita cukup fokus untuk berenang dari buoy ke buoy dengan demikian saya memiliki tujuan-tujuan kecil dan menamatkannya satu persatu. Selain itu saya pelajari juga rute renangnya dan melihat situasi di tempat, adakah benda atau bangunan yang bisa dijadikan patokan visual, sesuatu yg unik yang bisa menjadi target atau penanda jarak. Hal ini lebih memudahkan daripada menghapal jumlah buoy atau melihat data jarak di jam yang di renang sangat sering tidak dapat diandalkan karena kondisi gps sering terinterupsi ketika posisi tangan (yang ada jam) didalam air.

Saat start saya biarkan benyus duluan melewati timing dan masuk ke air agar saya bisa melihat dia dan tetap renang di belakangnya sampai belokan ke kanan pertama. Hal pertama yang dilakukan ketika bersentuhan tubuh dengan air adalah coba membuat koneksi dan merasakan seluruh sensor di tubuh, temperatur air cukup dingin namun tidak menusuk, aturan lomba masih membolehkan untuk renang tidak pakai wetsuit namun semua pro atlit pakai dan hanya sedikit sekali yang terlihat tidak menggunakan.

Setelah buoy belok pertama saya masih melihat benyus disisi kanan saya menuju turn buoy 2 lalu saya mulai mencari ritme renang saya sendiri, sampai putaran pertama berjalan lancar lalu kira-kira 500 meter berenang mulai berasa makin banyak riak di air seiring makin banyaknya peserta yang masuk air dengan powerful stroke di awal lomba, saya merasakan beberapa kali sentuhan di kaki dari tangan peserta lain. saya tetap berusaha fokus pada ritme sendiri dan memilih jalur yang tidak populer di sisi kanan luar, jalur lomba berlawanan dengan arah jam jadi posisi buoy selalu ada di kiri.

Suatu ketika saya dapati air beriak makin banyak yang bentuk nya bukan gelombang hanya riak kecil yang bergoyang, lalu yang saya takutkan menampakan diri, mual dan perasaan vertigo di air kembali terjadi dan perut berekasi, saya berusaha menenangkan diri dan mencoba sighting ke depan agar kepala tidak banyak goyang, berhasil namun menghabiskan banyak tenaga, saya coba stroke gaya dada namun renang gaya dada menggunakan wetsuit sangat tidak nyaman, saya dapati leher bergesekan dengan wetsuit dan menyebabkan lecet.

1.350 meter jalur belok ke kiri dan terlihat jembatan besar yang akan kami lewati dibawahnya. saya masih mencoba menghilangkan pusing dengan gaya dada sampai mendekati jembatan lalu kembali ke gaya bebas. Setelah lewat jembatan terlihatlah bendungan yang membuat renang di portmac ini unik, inilah satu-satunya Ironman dimana peserta dua kali naik melewati bendungan di tengah-tengah renang yaitu km 1.85 dan km 2.6. Bendungannya hanya 1.5 meter tingginya dari atas air dengan lebar sekitar 5 meter, panitia membuatkan platform berupa tangga naik dan turun. Mendekati bendungan semua peserta mengarah kepada titik kecil yang sama dan terasa makin rapat jarak antar peserta satu dengan lainnya. Saya mendekat dari sisi kanan dan tetap berenang dalam ritme yang sama sampai terlihat karpet biru di dalam air lalu mencoba meraba mencari pegangan pagar besi disisi kanan. Ketika posisi tubuh berubah dari horizontal ke vertikal seketika muncul rasa mual dari perut dan siap memuntahkan semuanya, namun saya sudah belajar banyak dari Bangsaen. Selama di Portmac khususnya di H-1 dan pagi sebelum lomba saya jaga sekali intake agar kondisi perut kosong di pagi hari namun glikogen penuh di liver dan otot. Saya terdiam sejenak di tangga naik melihat jam sudah 40menit sejak start dan saya sudah menempuh setengah jarak lomba, artinya tidak terlalu buruk waktu renang saya, lalu mulai melangkahkan kaki naik keatas bendungan. Diatas bendungan marshall melihat gesture saya yang tidak baik bertanya apakah saya baik-baik saja, saya bilang tidak dan dia menjawab dengan bingung “ok” dan berupaya menyemangati, lalu saya melanjutkan jalan menapaki platform turun namun mengalami pusing hingga saya mencoba sejenak duduk. Dalam fikir, mungkin ini efek dari pindah posisi dari renang ke berdiri lalu sy putuskan untuk bersegera masuk air kembali agar bisa merubah posisi tubuh kembali horizontal.

Didalam air saya berusaha fokus dan menghitung stroke, namun pusing tidak juga hilang lalu saya berhenti, menenangkan diri sambil melihat arah, membuka kacamata renang dan memasangnya kembali. Selanjutnya saya renang ke arah putaran balik dan kembali menuju bendungan untuk kedua kalinya kali ini saya sudah cukup hapal, 2.6km artinya jarak yang sudah ditempuh. ketika menyusuri tangga turun di sebelah kiri ada yang memanggil nama saya “hey dir” ternyata zacky dan saya hanya membalas dengan lemah lalu menapak turun masuk kembali ke air.

Dari sini jarak ke finish sisa 1.200 meter dan di titik ini saya yakin finish bukan lagi hambatan tinggal waktu yang akan terpakai seberapa lama, bagi saya yang penting naik ke darat kondisi badan baik dan pusing tidak terbawa untuk sisa hari ini yang masih panjang. Saya putuskan untuk tetap menjaga ritme yang aman dengan kombinasi gaya dada dan gaya bebas. Sedikit demi sedikit makin banyak jumlah buoy yang saya lewati, saya melihat dermaga dan tenda transition sudah didepan mata, semakin saya relax dan berusaha menenangkan diri, mendekati buoy terahir saya renang bebas dengan teratur dan menapaki pijakan naik dari sisi kanan sambil memegang pagar, ternyata masih cukup dalam lalu saya kembali berenang sedikit sampai saya bisa berdiri sedada dan berjalan dengan pelan melewati shower dan masuk ke dalam tenda transisi dimana menanti volunteer yang siap membantu membuka wetsuit disaat tenaga sudah terkuras 1jam 36menit survival di sungai hasting.

Jika ada satu hal yang harus saya perbaiki kedepannya, saya akan memeriksakan diri ke dokter spesialis THT dan memecahkan misteri kondisi tubuh saya yang selalu menjadi penghambat di renang.

Terimakasih untuk 2xuindonesia, fajaralexa untuk pinjaman wetsuitnya dan johanfanggara yang sempat meminjamkan saya wetsuit untuk dipakai di SUT.

Setelah menyelesaikan renang yang penuh perjuangan, rasa senang melanda sehingga segala kepayahan yang terjadi berubah menjadi antusiame menyambut jalanan panjang di depan mata.
Masuk area transisi tak lupa sambil menurunkan resleting wetsuit di punggung belakang, lalu bagian tangan kiri masih mudah sampai melepas bagian lengan kanan dimana ada Garmin Fenix 5x yang ukurannya cukup besar, sedikit stuck namun dengan sabar dan sedikit usaha sambil berjalan berhasil lepas setibanya di depan tenda transisi dimana Phil volunteer dari Melbourne yang menyapa kami kemarin bertugas. Saya berusaha mencari penampakan Phil yang sangat ramah, saya butuh menyapa seseorang yang saya kenal namun Phil tak tampak.

Lalu saya mengalihan fokus ke rak transisi tempat dimana peralatan sepeda ditaruh di tas plastic warna biru. Penyusunan tas di rak sudah terstruktur sesuai nomor dan mudah sekali menemukan tas bernomor 257 – nomor lomba saya. Masuk kedalam tenda keadaan ramai, semua sibuk sekali dengan urusannya masing-masing. Saya pilih kursi kosong lalu duduk dan dihampiri volunteer; seorang pemuda, dia menawarkan bantuan melepas wetsuit dan menarik wetsuit saya dari bagian kaki sambil berjongkok. Selanjutnya saya memakai sepatu, kacamata dan apply Vaseline ke area selangkangan yang akan menjadi penentu kenyamanan di Saddle sepanjang 180km. Si pemuda membantu membereskan barang saya dan memasukannya kedalam tas dan menaruhnya kembali ke rak, sangat terbantu sekali disaat koordinasi tubuh masih kacau setelah berenang. Keluar transisi menuju rak sepeda saya sudah mulai setengah berlari. Yang pertama dilakukan di depan sepeda adalah memasang helm dan memastikan talinya terkunci dan posisi diatur dengan tekanan yang nyaman di kepala lalu beralih ke arm sleeves, sarung tangan dan menurunkan sepeda dari rak. Untuk bike leg tidak diwajibkan menggunakan bib number. Total waktu transisi 8 menit 40 detik.

Proses mounting sepeda berjalan mulus, lalu saya mulai mengayuh pedal kearah pusat kota Portmac di Antara deretan toko dan restoran yanh sepanjang jalan di penuhi penonton yang bersorak menyemangati.

2km kemudian tanjakan pertama menuju Gaol Point langsung menyambut, dititik ini fokus pada mensinkronkan diri dengan sepeda, spinning pedal dengan ringan, membangun koneksi dan koordinasi tubuh. Melewati Gaol point disisi kiri didirikan tenda-tenda supporter dari Triathlon Club seluruh Asia Pasific dengan berbagai gaya dan cara mereka mendukung jagoannya, area yang paling menyenangkan.

Selanjutnya jalanan berubah menjadi rolling dengan tanjakan yang tidak bisa memanfaatkan momentum turun untuk dilewati jadi diujung tanjakan tetap harus memindahkan gear ke posisi ringan. Rute juga melewati penginapan kami di Beachside Holiday Apartment dan Flynn Beach tempat saya lari sore sebelum race. Di ujungnya bertemu dengan Matthew Flinders Drive Road dari sisi atas menikung 90 derajat ke kanan bertemu turunan curam yang memaksa tangan menekan tuas rem dalam-dalam karena kembali bertemu belokan tajam kekanan dan 100 meter kemudian sekali lagi menikung tajam ke kiri masuk ke jalur Flinders Hill yang legendaris, tanjakan sepanjang 300 meter dengan gradient yang cukup untuk memaksa weak cyclist mendorong karena tanjakan tersebut akan di temui 2x di Km kritis 80km dan 170km. Rute sepeda di Ironman Australia ini terdiri dari 2 loop x 90km.

Di km 11 Aid station pertama yang ditemui, aid station ini istilah yang umumnya untuk water station namun isinya komplit dan diatur sedemikian rupa agar mudah dihapal dengan urutan : Toilet – Electolytes Drink – Water – Food – Water – Electolytes Drink – Toilet. Makanan yang disediakan terdiri dari Ironman Gel, Ironman Bar, dan buah-buahan. Di aid station peserta di sarankan untuk tidak berhenti cukup memelankan sepedanya dan dengan sigap volunteer akan memberikan apa yang dibutuhkan. Jika tidak membutuhkan apa-apa maka bisa mengambil jalur di sisi kanan. Saya mengambil satu botol air mineral yang akan saya butuhkan untuk mendorong nutrisi yang sudah saya siapkan selama di sepeda, yang disayangkan hanya satu bagi peserta Indonesia, botol dari aid station bukan collectible item, botolnya polos tidak ada logo event.

Selanjutnya km 11 sd 20 memasuki jalur Ocean Road, jalan luar kota yang bertekstur sangat kasar, menurut orang setempat aspal kasar sengaja dibuat agar ban mobil lebih mencengkram ketika musim dingin, namun hal ini sangat tidak menguntungkan sekali untuk sepeda, getaran dari jalanan naik dari ban ke frame dan ke titik-titik tubuh yang bersentuhan dengan sepeda, arm rest, pedal dan saddle. Beberapa kali saya menyengaja ganti posisi ke non aero position untuk menetralisir getaran. Di titik ini head wind terasa paling kencang, menurut weather report hari itu kecepatan angin berkisar 20kpj, dengan effort yang sama di sudirman sepeda bisa dipacu di kecepatan 35-38 kpj di sini hanya jalan 26-28 kpj, walau demikian sepanjang jalan ini saya cukup banyak melewati peserta lain.

Setelah itu masuk area kota kecamatan di luar kota yang kondisi aspalnya mulus namun menemui beberapa tanjakan panjang yang memaksa saya memindahkan gigi ke posisi ringan, goal saya di sepeda ini lebih menjaga cadence dengan acuan persepsi effort di level 6 dari skala 10, saya tidak fokus pada kecepatan dan power.

Disepanjang jalan ini kami disuguhi pemandangan indah pinggir pantai dari atas bukit dimana terlihat titik-titik peselancar yang sedang bercumbu dengan ombak, kemudian jalanan disela dengan sesekali suasana pemukiman yang warganya tampak antusias mendirikan cheering zone dengan suguhan lagu dan kostum khusus yang menyenangkan. Kondisi langit biru sempurna dengan sentuhan awan cumulus yang menggantung rendah di langit serta suhu sejuk 20 derajat celcius memberikan aliran energy segar kedalam tubuh. Sampai di km 36.5 jalanan berbelok ke kiri memasuk Lake Street lalu turn around pertama d km 43 dan turnaround kedua di km 50.

Setelah itu jalur kembali ke arah transisi namun kondisi kali ini berbeda, terasa jalanan lebih mudah di lalui, kecepatan mulai naik, kembali menemukan tenaga dan sepeda dapat saya pacu kencang di kecepatan 35 kpj sehingga berangsung-angsur angka average speed di Garmin naik. Di beberapa turunan panjang saya teruskan menekan pedal dan tidak membiarkan momentum baik ini hilang, tercatat kecepatan maksimal 64.5 kpj di Garmin. Kembali ke jalanan ocean drive yang beraspal kasar kecepatan dapat di jaga stabil 34kpj. Saya banyak melakukan overtake peserta lain baik di jalan lurus, turunan maupun tanjakan dan meraih kepercayaan diri kembali. Mendekati Matthew Flinder Hill saya lihat Garmin average speed sudah naik ke 30.7 kpj.

Selanjutnya tanjakan paling menantang di Ironman Australia yaitu Matthew Flinders, disini sudah menanti karpet biru disisi kiri jalan yang disediakan bagi peserta yang memilih opsi untuk menuntun sepeda dari pada memaksakan ototnya keram dan terjatuh di tonton oleh ratusan penonton yang memang sengaja menunggu momen-momen lucu terjadi. Saya persiapkan diri dengan membuang satu botol air di aid station terakhir dan sudah shifting ke posisi gear ringan dari dasar tanjakan. Lalu sambil melihat posisi peserta lain saya menanjak dengan strategi zig zag mengambil ujung ujung dari jalanan yang sempit. Tujuan saya disini adalah menggunakan power terendah untuk dapat melewatinya dengan tetap mempertahankan keseimbangan selama di sepeda, dan saya menikmati sekali sharing ekspresi dari peserta maupun penonton yang riuh pikuk ada yang berlari nanjak mendampingi dengan kostum-kostum unik dan berbagai asesoris pembuat gaduh yang dibawa. Suasana yang mungkin sering kalian lihat di tv saat rute-rute tanjakan tour de france namun dalam skala yang kecil, suasana seperti ini hanya terjadi di beberapa race triathlon saja dan ini salah satu yang terdekat dari Indonesia.

Di bike leg ini saya sebisa mungkin selalu aware dengan peserta lain dan mencari teman-teman dari Indonesia selain memastikan meraka baik-baik saja, saling sapa juga akan menaikan energy positive. Kebetulan di tanjakan Matthew Flinders saya bertemu dengan Guntur perenang terbaik Indonesia di Ironman Australia kali ini. Setelah itu jalanan berlanjut kembali ke kota sampai turn around point sebelum transisi.

Di lap kedua kesulitan yang dihadapi makin besar, angin bertambah kencang dan jalur ocean drive baik dari arah transisi maupun arah balik hanya dapat dilewati dengan kecepatan rendah, selain kondisi tubuh yang makin lelah seiring jarang tempuh yang juga bertambah. Melewati kembali Matthew Flinders Hill tidak ada masalah berarti, di titik tersebut sisa 10km menuju akhir bike leg saya sudah bisa bersyukur perjalanan 180km berjalan lancer. Total waktu sepeda 6 jam 8 menit avg speed 29.2 kpj, elevation gain 1.520 meter (Garmin) 2.065 (Strava), avg HR 142.

Terimakasih kepada @trekbikesindo @buildabikeid @wiucycling yang mempercayakan sepeda andalan Trek Speed Concept dengan Wheelset @dtswiss yang di balut @vittoriaindonesia Corsa Graphene 2.0.

Ironman Australia – Bagian 3.

Memasuki area dismount; area yang didesain khusus bagi peserta untuk turun dari sepeda dan mendorong sepeda kedalam area transisi- saya lakukan cara non professional, lepas sepeda dari cleat, kemudian copot sepatu dari kaki dan sepeda saya tenteng masuk sambil mendorong. Setibanya di area dalam transisi langsung disambut oleh volunteer yang siap membantu membawa dan memasang sepeda ke rak sesuai nomor peserta, hal ini sangat memudahkan dan menghemat tenaga sekali karena area transisi yang cukup besar. Kemudian saya berjalan tenang ke arah tenda transisi sambil mengamati deretan rak sepeda peserta 70.3 yang penuh dan sebagian penuh di sisi Ironman. Yang pertama saya lakukan sebelum masuk tenda adalah pergi ke toilet, lalu saya curahkan diri untuk pipis yang cukup lama dilanjutkan berwudhu. Masuk ke tenda, mengambil tas perlengkapan lari, mencari pojokan kosong, dan menaruh barang-barang di kursi. Volunteer menghampiri bermaksud membantu membereskan barang namun saya sampaikan bahwa saya belum perlu diibantu karena akan melakukan sholat dahulu. Saya keluarkan sejadah beserta sarung dan melakukan sholat dzuhur dan ashar yang khusyuk, disitu saya bersyukur karena sudah sampai sejauh ini dan memohon agar dilancarkan untuk tantangan berikutnya MARATHON. Total waktu di transisi 14 menit 05 detik.

Saya memasuki leg terakhir di Ironman dengan total time di Garmin sudah berjalan tepat 8 jam 8 menit sejak start renang, jadi kalau ingin mengejar milestone sub 12 jam saya harus bisa berlari marathon dalam waktu 3:51 menit (pace 5:29). Saya keluar transisi dengan langkah ringan dan mencoba merasakan apakah ada masalah pada otot kaki khususnya quad yang paling bekerja keras di tanjakan-tanjakan sepanjang jalan. Saya pacu kecepatan lari di km pertama 5:12 sekaligus untuk memvalidasi kondisi kaki apakah ada kendala yang dapat saya ketahui diawal-awal, tidak ada masalah yang timbul sehingga muncul harapan dan luapan semangat untuk bisa mempertahankan pace target. Km 1.5 langsung bertemu tanjakan Munster St lalu berbelok menuju Clarence Street sd Special Need Run area jadi total tanjakan 300 meter. Pendekatan saya untuk tanjakan selalu konservatif lebih baik saya jalan yang diantisipasi daripada saya harus jalan di km akhir dengan kondisi tidak terantisipasi, km2 pace 5:59. Hal yang saya suka sekali dari pengelolaan Ironman Australia ini adalah bagaimana mereka melakukan proses kerja yang membantu peserta untuk tidak kehilangan waktu-waktu berharga, 200 meter sebelum special need area ada volunteer dengan alat komunikasi yang menanyakan apakah kita butuh mengakses special need bag, jika iya tinggal tunjukan tato nomor ditangan maka dia akan menghubungin volunteer di special need untuk menyiapkan. Ketika tiba di area special need volunteer sigap menyebutkan nomor bib dan menanyakan barang apa yang dibutuhkan, saya butuh akses ke gel dan dengan cara kerja mereka yang efisien saya ambil gel 2 saja karena bisa saya akses dengan mudah di lap selanjutnya, disini peserta bisa tidak perlu berhenti berlari. Selanjutnya melewati Gaol Point dimana tenda-tenda Tri Club seluruh Australia berdiri, ramai sekali kiri kanan meminta tos dan meneriakan nama saya, banyak juga yang meneriakan sponsor yang tercetak di trisuit dan yang paling menyenangkan berbagai tawaran makanan mulai dari gula-gula, permen, coklat, hotdog dan fries, saying saya punya rencana sendiri soal fueling. Selanjutnya jalanan turun sampai dengan pinggir pantai Town beach sehingga km 3 kembali bisa maintain pace 5:23. Di pantai ini saya di susul oleh Laura Siddal juara bertahan wanita Ironman Australia, saya perhatikan langkahnya sangat steady dan posturnya tall. Kemudian bertemu checkpoint lap dimana peserta harus mengambil gelang lap sesuai urutan total ada 4 gate untuk 4 lap total. Selanjutnya rute melewati deretan Pantai batu yang dipenuhi lukisan dan memorabilia tentang Ironman maupun Surfer yang berwarna-warni, suasana di lap pertama masih terang sehingga terlihat pantai townbeach dan muara pertemuan antara laut dengan Hasting River, di sepanjang jalan setapak selebar 2 meter di kiri kanan dipenuhi dengan para supporter yang menikmati suasana sambil barbekyu, minum dan melakukan aktivitas lain sambil cheering kepada pelari, festive sekali. Lalu rute kembali melewati finish line dan transition area ke arah utara Settlement Point Road. Ada 3 jembatan yang dilewati sepanjang rute lari dan bulak balik total lewat 6 kali, saya suka sekali lewat jembatan melihat air dan suasana yang berbeda. Setelah lewat park street Garmin berbunyi dan saya melewati km 5 dengan waktu 28 menit 3 detik berarti pace average saya 5:51 berarti saya sudah off pace dari target sub 12. Di titik ini mental saya sudah berubah, saya tidak perlu mengejar apa-apa lagi, tinggal menikmati sisa jarak lomba dengan pace yang nyaman dengan efisien dan bisa di bawah 13 jam.

Jalur selanjutnya menuju settlement point turn around adalah jalur paling sepi karena masuk area pemukiman yang ujungnya jalan buntu. lari kearah turn around terasa mudah namun ketika memutar balik instan terasa angin menerpa dari depan, dingin dan bersuara. sedikit perjuangan melangkan ke arah park street dan kembali kearea transisi. Jarak 1 loop adalah 10.25 km di kali 4 loop 41km sd titik transisi, dari transisi ke finish 1.2 km sehingga total jarak 42km.

Di lap 1 saya hanya berpapasan dengan Guntur dan di belakangnya diikuti Dedy, belum bertemu dengan teman-teman yang lain. Saya penasaran bagaimana nasib Benyus, Zacky dan Dodo, semoga sepedanya berjalan lancar. Lap ke 2 saya kembali mengambil special need dan kembali mengambil cadangan gel. Di Marathon ini saya konsumsi 5 Gel yang saya bawa sendiri. Seiring bertambahnya lap, semakin hapal dengan rutenya, semakin menikmati ritme lari yang sudah terantisipasi, karena itulah saya suka sekali marathon di Ironman yang lapnya 4, pengalaman pertama di Langkawi 2014 juga sama lap lari 4 kali.

Mendekati waktu sunset suasana semakin menyenangkan, semburat matahari di golden hour menyinari kulit dan memberikan glow di kulit, saya perhatikan peserta lain dari berbagai bangsa, suku dan warna kulit, semua bercahaya di momen ini. Di area park street terdapat satu cheering tent yang isinya para superhero dari avenger, ada Hulk, Thor namun satu yang gak ada yaitu Ironman, mungkin karena semua orang yang berlari adalah Ironman ya :). Di lari saya menggunakan Hoka One One Clifton 1 yang dibawakan spesial dari US oleh Rosdiyani, pilhan saya kepada sepatu ini karena memang Clifton 1 ini lahir untuk Ironman, Cushioning, Ringan dan Responsif, dan kebetulan warnanya senada dengan 2XU custom aero trisuit yang saya pakai. Pilihan kaos kaki saya adalah compression shocks 2xu yang warna nya senada namun sudah lama tidak saya pakai dan sepertinya compressionnya terasa sangat kencang di telapak kaki, sehingga saya putuskan untuk mengganti dengan kaos kaki cadangan yang saya taruh di special need sehinggan di km 23 inilah saya menghabiskan waktu split terlama 9menit:33 detik.

Seiring waktu dan matahari yang sudah tenggelam cuaca semakin dingin, angin terasa semakin kencang, suasana semakin sahdu. Saya mencoba tetap ada di present dan merasakan hal-hal detil yang lewat di depan mata, mengamati penonton, pelari lain, menyapa petugas water station, membaca gesture orang-orang. Ironman kedua ini berbeda sekali dengan Ironman saya yang pertama, dimana saya bisa merasakan kekhawatiran dan support besar dari keluarga di rumah, lalu flashback latihan dan perjuangan saya mencapai titik lari di Ironman dan ketika itu saya meneteskan air mata ketika melewati finish area di lap ke-3, tangisan haru karena saya merasakan puncak ekstasi kebahagian atas impian saya yang tak lama lagi akan dicapai. Namun di Ironman kedua yang ada hanya ketenangan, batin saya tenang, tidak ada emosi yang melonjak, saya lebih memfokuskan pada apa yang terjadi di depan mata. Baru pada lap terakhir setelah mengambil gelang ke-empat saya mulai memikirkan tentang finish dan pose apa yang akan saya lakukan di finish. Meyakini bahwa kaki baik dan tidak ada masalah pada otot, di km 37 saya tambah speed hingga kembali masuk di pace 5:40 namun tidak bertahan lama lalu turun kembali di pace 6:10.

saya tidak intake gel lagi sejak km 34 dan skip WS terakhir tanpa mengambil apa-apa saya sudah menginginkan berada di Finish. Masuk ke area finish saya melihat kebelakang dan melihat ada satu rombongan atlit Australia mungkin dari club yang sama akan masuk lalu saya persilahkan duluan, saya tunggu sampai agak kosong, saya ingin menikmati karpet Finish sendiri sambil menyambut tos pada penonton di kiri kanan, lalu saya membuat gesture 2 tanda Finish Ironman #2, mendekati gate saya berlari dan melakukan lompatan kebahagiaan. Total Marathon Time 4 jam 33 menit. Total Finish Time 12 jam 41 menit, 1jam 4 menit lebih baik dari Ironman #1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *